English Tips


3 Prinsip yang Membuat Ucapanmu Didengarkan Baik-baik oleh Orang Lain

Share this page  

img-fluid

Hari ini, komunikasi bisa terjalin dengan begitu cepat baik secara tatap muka maupun secara virtual. Semua orang hampir tidak melewatkan komunikasi barang sekali dalam satu hari, bahkan ketika kita hanya di rumah saja. Pernahkah kamu merasakan pengalaman berikut seperti berikut. Kamu mengidamkan satu hari yang tenang, menyeruput teh hangat di pagi hari, berjalan-jalan dengan hewan peliharaan mengelilingi kompleks, atau membaur ke taman kota menikmati udara segar. Semua yang kamu idam-idamkan kemudian menjadi tidak maksimal sebab di pagi hari kamu mendengarkan tetanggamu datang ke rumahmu dengan membawa kabar buruk soal tetanggamu yang lain. Ia terus saja mengeluarkan kata-kata yang bernada kritik. Atau bayangan indah satu hari runtuh sebab kamu membaca berita di pagi hari ada satu video viral tentang drama para artis ibu kota, dan kamu menyaksikan ratusan ragam komentar mencibir dan saling menyalahkan.

Kita, hari ini, hampir tidak bisa terlepas dari segala macam kejadian yang tidak menyenangkan. Kita hampir selalu terlibat dalam gosip baik dalam forum diskusi media atau perseorangan. Semua orang mulai mengatakan keburukan orang lain. Meskipun kita tidak mau menanggapi sejujurnya, kritikan-kritikan tersebut justru masuk ke dalam ingatan kita, menggiring kita pada objek pikiran yang sama dengan mereka. Apalagi di media daring, semua orang bisa saja melontarkan kritik tajam tanpa bertatap muka. Contoh sederhana dalam pembelajaran bahasa Inggris bisa dilihat dari betapa banyaknya orang merasa tidak percaya diri belajar sebab takut akan penghakiman dan penilaian orang lain. Mungkin orang-orang yang menilai cara belajar kita tidak merasakan betapa pengaruh ucapan tersebut begitu besar terhadap cara pandang kita akan sesuatu.

Sudah waktunya kita mulai memikirkan gaya berkomunikasi yang sehat. Setidaknya, gaya komunikasi ini membawa kita kepada arah yang maju, baik untuk kita maupun orang lain. Gaya komunikasi yang buruk bisa membuat kita kehilangan kepercayaan. Orang lain bisa saja menganggap ucapan kita seperti kabar buruk yang harus dijauhi. Untuk itu, setidaknya ada tiga prinsip komunikasi yang bisa kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ubah Bahasa Kritik Menjadi Bahasa Nasihat

Kita semua setuju tidak ada seorang pun di dunia ini yang mau menjadi objek celaan. Meskipun kita terkadang ingin sekali mengungkapkan keburukan orang lain atau hal-hal yang kita anggap perlu dikomentari, perlu adanya kecakapan dalam membungkus bahasa yang baik. Setidaknya ubah bahasa kita yang negatif menjadi afirmatif. Perhatikan dua contoh pernyataan berikut.

Pernyataan negatif: Kemarin, aku mendengarkan Karin bermain gitar. Suara yang ia hasilkan sama sekali tidak lebih baik dari permainan gitarku. Kenapa dia bisa-bisanya percaya diri memainkan gitar di hadapan teman-temannya? Kalau aku jadi dia, aku tak akan melakukannya.

Pernyataan positif: Kemarin, aku mendengarkan Karin bermain gitar. Meskipun permainannya belum begitu bagus, tapi semangat dan sikap optimisnya sangat mengesankan. Dia memainkan gitar di depan teman-teman. Mungkin aku dan teman-teman yang lain bisa mengajaknya belajar bermain gitar bersama supaya kita bisa saling mengajari satu sama lain. Pasti akan sangat menyenangkan.

Tentu saja kita bisa mengubah semua benak ke dalam bentuk ucapan dengan mudah. Tantangannya adalah bagaimana caranya berkata dengan nada-nada bahasa yang afirmatif daripada mencela. Kiat ini tidak membutuhkan banyak teori, hanya kesadaran dan sedikit cara seperti berikut:

Kita harus sadar bahwa tidak ada orang yang mau dicela.

Hilangkan segala motif terselubung yang menggiring pandangan orang lain menjadi buruk.

Tenangkan diri sebelum berkomunikasi dengan orang lain. Jika kamu ingin meluapkan emosi, lakukan di tempat dimana tiada orang lain yang bisa menyaksikannya.

 

Selalu Katakan Hal-hal yang Baik

Memang selalu lebih mudah mencari kesalahan atau kelemahan orang lain daripada mencari sisi baiknya. Sisi buruk selalu bisa menarik perhatian kita terlebih dahulu. Hanya saja, sebuah komunikasi tidak akan menjadi sehat jika kedua belah pihak (komunikator) tidak mau mengakui kebaikan. Contohnya bisa dilihat saat bagaimana seorang kawan mengomentari pronunciation kita dengan istilah ‘medok’. Kita bisa jadi akan sangat jengkel dan marah. Apakah dibenarkan kita membalasnya dengan ujaran kebencian juga? Tentu saja tidak. Kita bisa ubah gaya bahasa kita menjadi berikut:

Ujaran marah: Kamu tuh sok-sokan mengomentari orang lain ‘medok’ seperti kamu jago saja ngomong bahasa Inggris. orang kamu juga ‘medok’ begitu.

Ujaran Baik: Terima kasih lo kamu memperhatikan cara pengucapanku. Kalau tidak ada yang mengoreksi seperti kamu, aku mungkin tidak tahu dimana letak kelemahanku.

Pernyataan positif akan memberi kita martabat. Setidaknya, orang lain menjadi sadar bahwa apa yang mereka tidak sadari sebagai keburukan justru berkesan bagi perkembangan diri kita. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, tapi kenapa kita tidak mencobanya?

 

Pahami Keinginan Inti Orang Lain

Apa sih tujuan kita dalam berkomunikasi dengan orang lain? Bukankah kita tidak hanya asal bicara tapi juga menjalin hubungan? Komunikasi yang baik akan mempererat hubungan interpersonal. Salah satu cara agar ucapan kita didengarkan baik-baik ialah dengan membicarakan hal-hal yang penting bagi orang lain. Jika kita terlampau fokus pada diri kita, justru kita terkesan egois. Tidak heran orang menjauhi kita. Jika kita mau memperhatikan lawan bicara kita lebih seksama, dan kita mampu mencari keinginan inti mereka, kita akan menjadi orang yang layak disimak sepenuh hati.

Duncan menulis buku “Killing the Sale Book”. Ia membuat pengelompokan dua komunikasi yang memperlihatkan seberapa jauh kita mau menjalin hubungan dengan orang lain daripada hanya sebatas bicara tanpa memahami orang lain.

Dialog – Monolog

Perhatian – Angkuh

Autentik – Palsu

Transparan – Manipulatif

Percaya diri – Merongrong

Tertarik memenuhi kebutuhan – tertarik menghasilkan keuntungan

Membangun kepercayaan – membangun ketegangan

 

Itu tadi setidaknya tiga prinsip yang membuat kita menjadi sosok yang didengarkan baik-baik oleh orang lain.